Oleh: kanikana | 20 Maret 2009

Yang Perlu Kita Ketahui Tentang Vulvovaginitis: Iritasi pada Organ Intim Wanita

Terkadang seorang wanita mengalami kemerahan, gatal-gatal, rasa tidak nyaman setelah buang air kecil pada kulit di sekitar genitalnya, serta mengeluarkan lendir cukup banyak. Apa yang sebenarnya terjadi?

A. Perlindungan normal

Pada keadaan normal, kulit daerah genitalia wanita (vaginal) memiliki beberapa proteksi perlindungan, antara lain:

1. Daerah kulit vaginal dilapisi oleh lapisan epitel yang tebal. Tebalnya lapisan epitel ini dapat mempersulit kuman-kuman penyakit untuk menembus ke bagian dalam vagina. Tingkat ketebalan lapisan epitel ini dipengaruhi oleh kadar hormon esterogen dalam tubuh.

2. Adanya lapisan lendir yang berwarna putih/transparan, tebal, dan tidak berbau. Lapisan lendir ini menutupi lapisan epitel vaginal dan bersifat melindungi daerah vaginal dari kuman yang berbahaya. Normalnya lendir yang dihasilkan sebanyak 1-4 ml.

3. Pada keadaan tertentu, jumlah, kekentalan, warna, dan bau lendir dapat berubah. Saat seorang wanita dalam periode menstruasi, hamil, atau menggunakan pil kontrasepsi, jumlah dan kekentalan lendir akan bertambah. Namun, selain keadaan itu, perubahan lapisan lendir dapat menandakan terjadinya penyakit.

4. Keadaan asam (pH rendah berkisar antara 4 – 4.5) di sekitar vagina. Keadaan asam ini akan membunuh dan menghambat pertumbuhan kuman yang berbahaya. Seiring bertambahnya usia dan adanya penyakit pada daerah vaginal, pH akan meningkat sehingga daerah vaginal menjadi lebih rentan terhadap serangan kuman.

5. Rambut kemaluan yang mulai tumbuh saat wanita berusia remaja juga membantu perlindungan.

B. Apa itu Vulvovaginitis?

Walaupun kita sering mendengar kata vagina, sebenarnya daerah kulit terluar dari genitalia wanita adalah vulva. Di bagian dalam vulva barulah terdapat vagina.

Vulvovaginitis adalah iritasi/inflamasi pada kulit daerah vulva dan vagina. Iritasi ini dapat menyebabkan terjadinya

gatal-gatal (45-58%) di sekitar daerah labia mayora (bibir vagina besar), labia minor (bibir vagina kecil), dan daerah perineal (daerah perbatsan antara vagina dan anus)

kemerahan dan rasa seperti terbakar pada kulit (82%)

rasa tidak nyaman pada kulit terutama pada saat atau setelah buang air kecil

banyaknya lendir yang keluar dari vagina (62-92%)

pendarahan (5-10%).

Kelima tanda-tanda ini adalah gejala yang paling sering muncul pada vulvovaginitis. Vulvovaginitis merupakan penyakit kewanitaan yang paling sering terjadi.

C. Apa penyebab vulvovaginitis?

Karena adanya sistem perlindungan normal yang kuat, maka tidak mudah bagi kuman dan bakteri dapat menimbulkan penyakit pada daerah sekitar vagina dan vulva. Namun, gangguan dari salah satu pertahanan tersebut dapat menyebabkan kita menjadi lebih rentan terkena vulvovaginitis.

Gangguan itu dapat berupa :

(a) Infeksi oleh bakteria, jamur, virus, dan parasit lainnya baik karena kurangnya kepedulian menjaga kebersihan vulva dan vagina juga oleh penyakit menular lainnya.

(b) Penggunaan bahan-bahan kimia yang terdapat pada sabun mandi, parfum, dan lainnya yang digunakan pada vulva dan vagina. Hal ini dapat mengaibatkan iritasi jaringan sekitar dan dapat mempermudah terkena vulvovaginitis.

(c) Kebiasaan sehari-hari seperti pengunaan baju basah, pengunaan celana dalam terlalu ketat, celana dalam kurang bersih, dan kebiasaan membersihkan anus sehabis BAB yang tidak tepat.

D. Siapa yang lebih rentan mengalami vulvovaginitis?

Vulvovaginitis dapat dialami oleh semua wanita dalam segala usia. Namun, beberapa kondisi dapat menyebabkan seseorang lebih rentan:

1. anak perempuan sebelum balita dan anak-anak karena kulit vulva dan vagina lebih tipis dan belum bisa mengurus kebersihan diri sendiri dengan baik.

2. pada wanita yang telah mengalami menopause.

3. pada wanita yang sering mengalami infeksi penyakit kelamin

4. pada wanita penderita diabetes mellitus

5. pada pengguna oral contraceptive (kontrasepsi yang diminum atau ditelan) dan antibiotika jangka lama

6. orang yang mengalami gangguan imunitas

E. Perubahan perilaku yang diperlukan

Pengunaan antibiotika dan obat lainnya kadang memang diperlukan untuk mengobati vulvovaginitis. Oleh karena itu, sebaiknya hubungi dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut. Namun, perubahan perilaku juga diperlukan. Bila hal ini terjadi pada anak kecil, ibu harus membantu anaknya dalam mengubah perilaku dan melatihnya untuk membiasakan diri.

Pengunaan celana dalam yang bersih, tidak ketat, dan kering

Sebaiknya dibiasakan untuk mengganti celana dalam minimal 2x sehari.

Membersihkan diri setelah buang air kecil dan buang air besar.

Membersihkan diri setelah buang air besar harus dilakukan dari arah depan ke belakang dan tidak boleh sebaliknya. Gerakan sebaliknya akan menyebabkan kumna dari anus berkumpul di sekitar vagina dan mempermudah infeksi.

Mandi

Mandi minimal 2x sehari. Hindari pengunaan sabun mandi dan parfum dalam membersihkan bagian vulva dan vagina. Bila anak perempuan anda sedang mengalami vulvovaginitis, mandilah lebih sering ( 3x sehari ).

Sesudah mandi

Jangan mengusap bagian valgina terlalu keras.

Tidak menggunakan tampon yang berparfum

Menggunakan kondom untuk mencegah penularan penyakit melalui hubungan seks

(Sumber: http://www.tanyadokteranda.com)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: